Rabu, 12 Juni 2013

Bagaimana Allah Mengingatkan Hambahnya...

Seorang manager yang saat itu berada di lantai lima ingin
memanggil karyawan yang sedang bekerja di bawah, Setelah sang manager berkali-kali berteriak memanggil,
si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada
pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan. Sang manager terus berusaha agar si karyawan mau
menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 10.000- yang jatuh tepat
di sebelah si karyawan.
Si karyawan hanya memungut Rp 10.000 tsb dan
melanjutkan pekerjaannya. Sang manager akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan


berharap si karyawan mau menengadah "sebentar saja"
ke atas.
Akan tetapi si karyawan hanya lompat kegirangan karena
menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja. Pada akhirnya sang manager melemparkan tutup pulpen
yang tepat mengenai kepala si karyawan. Merasa
kesakitan akhirnya si karyawan baru mau menoleh ke
atas dan dapat berkomunikasi dengan sang manager.


 Metafora diatas sering kali terjadi pada kehidupan kita, kia sebagai mahkluk yang penuh kekhilafan sering kali melupakan nikmat Allah, lupa bersyukur, dll.
Allah selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu
sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita
lupa untuk menengadah bersyukur kpd NYA Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana
rejeki itu datang
Bahkan kita selalu bilang kita lagi "HOKI!" Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan
rejeki milik Allah. Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu
kecil" yg kita sebut musibah! agar kita mau menoleh
kepada-NYA. Sungguh Allah sangat mencintai kita, marilah kita selalu
ingat untuk menoleh kepada NYA sebelum Allah
melemparkan batu kecil. 


Semoga kisah diatas memberikan kita manfaat dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan...
Amin 

Label: , , , , , , , ,

Selasa, 26 Maret 2013

Setiap Manusia Adalah Perahu Yang Berlayar Di Samudra Kehidupan

Hidup kita ibarat perahu ditengah samudra luas yang penuh badai dan angin kencang namun ddidalam perahu itu sudah dilengkapi dengan alat-alat komunikasi dan kompas, ketika seorang insan sudah terlalu jauh dari jalan yang harusnya ditempuh maka  alat komunikasinya adalah Allah dan kompasnya adalah alqur'an dan alhadits, tidak ada yang lain.
Lebih dari itu... Manusia diciptakan dengan sangat baik oleh Allah, dilengkapi dengan bakat serta kemampuan yg luar biasa. Diberi hati nurani dan akal budi serta kebebasan untuk menjalankan perahu kehidupan kita secara baik dan benar. 


Bahkan seekor lalat pun rezekinya sudah diatur oleh Maha Besar Allah, lalu bagaimana mungkin seorang manusia yang jauh lebih sempurna (memiliki akal budi & perasaan) masih mengeluh bahwa hidup ini tidak adil, mengeluh bahwa rezeki mereka terlalu sempit, mengeluh bahwa tidak ada satupun kesempatan yang datang pada mereka. bukankah semua keluhan itu bisa menjadikan mereka muslim yang kufur? bagi mereka yang sering berpikiran demikian tidak ada salahnya jika sesama muslim kita saling mengigatkan, cobalah ajak mereka berjalan keluar dan mengelilingi daerah sekitarnya, cobalah minta mereka tidak hanya melihat dengan mata tapi juga melihat dengan hati dan pikiran yang jernih, lhat bagaimana seorang pemulung masih bisa makan, cobalah lihat bagaimana seorang tukang parkir masih bisa bertahan hidup, cobalah lihat seroang penjual kerupuk masih bisa bersyukur, dan banyak lagi! apa kurang cukup bukti bahwa manusia sudah ditakdiran sebagai salah satu penciptaan Allah yang paling sempurna, hanya orang-orang kufur yang bisanya mengelu dan mengatakan hidup ini tidak adil.

Tidak ada gunanya perahu yang hebat jika hanya ditambat di dermaga. Sejatinya hidup kita adalah berlayar mengarungi samudra, melawan badai, menembus ombak dan menemukan pantai harapan. Sejatinya hidup selalu ada masalah, dan manusia akan selalu dihadapkan dengannya tinggal bagaimana manusia mengunakan alat komunikasi dan kompasnya untuk menghadapi semua masalah itu.

Mari kita kembangkan layar, penuhi dada kita dengan keyakinan bahwa Allah bersama kita...
Allah Hu Akbar!!!



______________________

Ditulis oleh Al amin Ibnu 

Label: , , , , , ,